Rabu, 03 Februari 2021

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 2)

 Ke Rumah Sakit Umum Provinsi (September 2019)

Membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Islam (RSI), keesokan harinya adik saya segera pergi mendaftarkan saya ke RSUP. Sayangnya, Poli Onkologi di sana tutup hari jumat dan sabtu. Tidak hanya itu, kedua dokter onkologi sedang menghadiri seminar di luar daerah selama seminggu ke depan. Oleh karena itu, saya baru bisa menemui dokter onkologi untuk pertama kali saat memasuki awal September 2019.

Saat bertemu salah satu dokter onkologi di RSUP itu, saya mendapat kabar buruk. Dokter meminta saya melakukan operasi biopsi ulang. Alasannya karena pengawetan sampel tumor saya dari operasi sebelumnya tidak menggunakan buffer formalin, sehingga sampel tersebut tidak dapat digunakan kembali untuk melakukan uji imunohistokimia. Imunohistokimia, secara sederhana, adalah pemeriksaan untuk menentukan hormon penanda tumor yang dimiliki pasien kanker, khususnya kanker payudara. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan terapi obat hormonal yang akan diberikan.

Untuk persiapan operasi, saya kembali melakukan tes darah, sedangkan rontgen dada tidak dilakukan karena rontgen sebelumnya di RSI belum lewat 3 bulan. Saya lalu dikirim ke Poli Penyakit Dalam untuk pengecekan kesiapan operasi. Dokter memeriksa hasil tes-tes di atas dan menanyakan beberapa pertanyaan tentang riwayat asma, alergi dan penyakit lain. Setelah di-acc dokter penyakit dalam, saya kembali ke Poli Onkologi, baru setelahnya saya bisa mendaftar operasi.


Biopsi Ulang dan Imunohistokimia (Akhir September – Pertengahan Oktober 2019)

Operasi biopsi ulang saya dilakukan sekitar dua minggu kemudian. Hampir tidak ada yang berbeda dari operasi biopsi saya sebelumnya. Jika ada yang berbeda, dan tidak menyenangkan, adalah fakta bahwa kini hampir setengah payudara kiri atas saya amblas. Sepertinya memang sudah prosedurnya untuk mengangkat sebagian besar tumor dan menyisakan sebagian kecil lainnya. Hanya saja, yang membuat saya kecewa adalah karena saya tidak diberitahu tentang hal ini sebelumnya, sehingga hati saya tidak siap dan sempat syok saat melihat bentuk payudara saya setelah operasi. Saya pikir, sama seperti operasi sebelumnya, dokter hanya akan mengambil sebagian kecil saja.

Setelah hampir dua minggu berlalu, saya mendapatkan hasil patologi anatomi (PA) saya. Kali ini, hasil biopsi berbunyi seperti ini “Invasive Carcinoma of NOS”. Ini artinya kanker saya adalah jenis karsinoma (kanker yang berasal dari sel jaringan organ) tanpa tipe khusus (NOS = Not Otherwise Specified).

Setelah hasil PA saya keluar, dokter lalu menyarankan untuk melakukan pengujian imunohistokimia.  Tidak seperti pemeriksaan patologi sebelumnya yang ditanggung BPJS, kali ini saya perlu membayar sendiri. Dan karena sampelnya sendiri sudah diawetkan dengan cukup baik hingga mampu bertahan lama, dokter tidak menginstruksikan saya untuk buru-buru melakukan uji imunohistokimia. Akan tetapi, memang disarankan lebih cepat lebih baik.

Hasil imunohistokimia memakan waktu yang sama dengan hasil patologi sebelumnya, sekitar 14 hari. Dari empat hormon penanda tumor yang diuji, tiga diantaranya positif. Lebih tepatnya, hasil imunohistokimia saya sebagai berikut: ER+, PR-, Her2 +3, dan Ki-67+.


Kemoterapi (Akhir Oktober 2019 – Mei 2020)

       Setelah hasil biopsi ulang saya keluar, saya pun bersiap-siap untuk melakukan pengobatan kanker pertama saya, yakni kemoterapi. Sama seperti kebanyakan pasien kanker lainnya, saya direncanakan melakukan 6 sesi kemoterapi. Jarak dari setiap sesi adalah tiga minggu. Waktu tiga minggu ini adalah waktu bagi saya untuk memulihkan diri dari efek kemo sebelum melakukan sesi kemo berikutnya.

        Sebelum kemoterapi, saya diminta melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau sederhananya pemeriksaan jantung dan tes darah. Hal ini untuk mengetahui apakah kondisi fisik saya siap menjalani kemoterapi dan menahan efeknya yang dikenal berat pada tubuh.

Namun, hal yang dibutuhkan sebelum kemoterapi bukan hanya persiapan fisik. Persiapan mental juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Saya banyak membaca tentang kemoterapi, terutama efek sampingnya yang sering muncul. Saya perlu menyiapkan hati saya untuk hal-hal yang mungkin akan saya alami, seperti mual muntah berat, rambut rontok, tubuh melemah, dsb.

Kabarnya efek samping berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang merasakan efek yang ringan, sedang, sampai berat. Untuk saya sendiri, efek samping yang sering saya alami antara lain: mual, muntah, perut kembung, konstipasi, dan sariawan mulut. Biasanya saya muntah-muntah sampai hari ketiga paska kemo, sementara efek samping lainnya normalnya bertahan sampai hari ketujuh sampai kesembilan. Setelahnya, keadaan saya mulai perlahan-lahan normal. Nafsu makan saya kembali seperti biasa, tubuh saya tidak selemah sebelumnya. Memasuki minggu ketiga, biasanya kondisi saya sudah sepenuhnya pulih (yah, tidak sepenuhnya seperti sebelum kemo) dan saya sudah bisa melakukan aktivitas fisik yang lebih berat.

Tiga minggu setelah kemoterapi pertama saya, rambut saya mulai rontok parah. Saya pikir rambut saya akan rontoh sedikit demi sedikit dan menyangka butuh waktu setidaknya berminggu-minggu sampai rambut saya rontok sepenuhnya. Tapi ternyata, hanya dalam hitungan hari, bahkan tidak sampai seminggu, rambut saya hampir luruh total. Karena sedih melihat kali menyisir rambut saya yang rontok, saya akhirnya memutuskan untuk sekalian menggunduli kepala saya.

Secara singkat, beginilah siklus 3-minggu sesi kemoterapi saya. Minggu pertama lemah dan mual muntah, minggu kedua mulai pulih, lalu di minggu ketiga saya kembali menyiapkan diri untuk sesi kemo berikutnya: konsultasi ke dokter onkologi, tes darah, mendaftar untuk dapat jadwal rawat inap, dst.


Mastektomi / Operasi Pengangkatan Payudara (Awal Maret 2020)

Seharusnya, setelah sesi kemoterapi ketiga, saya perlu melakukan operasi pengangkatan payudara, baru sesi kemoterapinya dilanjutkan. Namun, karena ada miskomunikasi antara saya dan dokter waktu itu, operasi mastektomi saya dilakukan setelah kemoterapi kelima saya di bulan Januari 2020.

Saya perlu menunggu sebulan hingga jadwal operasi saya tiba. Persiapan pra-operasinya tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Waktu operasi yang dibutuhkan kurang lebih dua kali lipat dari operasi biopsi. Saya masuk ruang operasi sekitar jam 10 pagi dan baru kembali ke kamar inap saya sekitar sore harinya. Tidak butuh waktu lama sampai saya bisa menggerakkkan anggota tubuh saya seperti biasa. Tetapi, oleh perawat saya dilarang bangun dari tempat tidur (karena luka operasi di dada saya yang masih basah).

Saya baru diperbolehkan dokter bangun dan berjalan-jalan di sekitar keesokan paginya. Setiap kali berpindah tempat saya perlu membopong kedua kantong darah dan selangnya yang menjulur dari dada kiri saya, belum lagi tiang infus yang terpasang di tangan kanan saya. Dua hari kemudian saya diberi izin pulang ke rumah.

Payudara kiri saya yang diangkat dikirim ke laboratorium untuk diperiksa apakah bagian tepi dan dasarnya bersih dari tumor. Hasil pemeriksaan patologinya saya dapatkan sekitar seminggu kemudian. Alhamdulillah, hasilnya bagus. Tidak tampak sisa tumor maupun metastasis (penyebaran kanker).


Radioterapi (Akhir September – Awal November 2020)

       Sekitar 4 bulan setelah sesi kemoterapi terakhir saya di bulan Mei, saya dikirim ke Poli Radioterapi untuk mendapatkan terapi sinar (radioterapi). Saat pertama kali bertemu dokter radioterapi di sana, beliau mengatakan bahwa saya hampir datang terlambat. Tujuh bulan berlalu sejak operasi pengangkatan payudara saya. Jika saya datang sebulan lebih lambat, maka terapi sinar tidak akan lagi memiliki efek. Begitulah yang dijelaskan dokter.

     Sebelum memulai sesi radioterapi, pertama-tama saya menjalani simulasi terapi untuk menentukan area penyinaran di tubuh saya. Bagian atas dan bawah dada saya, sampai sisi tubuh di bawah ketika, digambar dengan spidol untuk menandai batas penyinaran. Gambar spidol ini tidak boleh hilang, jadi selama sesi radioterapi saya tidak diperbolehkan membersihkan tubuh bagian atas (sekitar dada) dengan air.

      Saya pun kemudian dijadwalkan menjalani 30 sesi radioterapi. Radioterapi atau penyinaran dilakukan setiap hari selama hari kerja (senin – jumat). Sesi radioterapinya sendiri tidak memakan banyak waktu. Mungkin hanya sekitar 10 menit. Keseluruh sesi radioterapi saya selesaikan dalam waktu 1,5 bulan.

   Sebelum mulai penyinaran, saya dijelaskan bahwa saya mungkin akan mengalami efek samping yang mirip dengan saat kemoterapi tapi biasanya jauh lebih ringan, seperti mual muntah, sariawan/nyeri mulut, kehilangan indra perasa, mencret, dsb. Namun, sama seperti kemoterapi, efek samping ini dialami berbeda oleh tiap-tiap orang.

Untuk saya sendiri, efek samping yang saya alami hanyalah rasa nyeri di bagian mulut dan lidah saya tidak bisa merasakan rasa makanan dengan baik. Jadi, selama efek samping ini saya rasakan, saya tidak bisa makan dengan baik, membuat berat badan saya sedikit turun. Selain itu, tubuh saya juga terasa agak lemah. Tapi memang benar efeknya tidak seberat kemoterapi.

Saat mendekati sesi-sesi akhir, area kulit yang terkena sinar mulai lecet sedikit demi sedikit. Luka lecetnya terutama di bawah ketiak dan di tengah dada kiri bekas jahitan operasi saya. Butuh sekitar dua minggu sampai luka terkelupasnya mengering dan mulai tumbuh kulit baru.


Terapi Hormonal / Mengkonsumsi Obat Tamoxifen (sejak Januari 2020 – sekarang)

        Saya mulai diberi resep obat Tamoxifen, yakni obat untuk mengontrol hormon pertumbuhan tumor di tubuh, mulai bulan Januari 2020. Obat ini harus diminum setiap hari selama 5 tahun. Dokter hanya bisa meresapkan obat ini sekali sebulan. Dan terkadang, jika suplai obat tamoxifen di apotik Rumah Sakit, saya terpaksa harus membeli di apotik luar agar konsumsi obatnya tidak terputus lama.


Terapi Hormonal / Injeksi Zoladex (sejak Mei 2020 – sekarang)

       Selain obat tamoxifen yang diminum setiap hari, terapi hormonal lain yang saya dapatkan adalah injeksi zoladex setiap sebulan sekali selama kurang lebih 2 tahun (atau total 24 kali injeksi). Sama seperti kemoterapi, saya perlu cari kamar untuk rawat inap setidaknya semalam. Injeksi zoladexnya sendiri hanya perlu beberapa menit, tapi aturan rawat inap ini adalah kebijakan dari BPJS.


Check-Up Rutin 3 Bulan Sekali (Juli 2020 – sekarang)

 Selain terapi hormonal (tamoxifen dan zoladex) yang masih rutin saya jalani, setiap 3 bulan sekali saya akan diminta dokter onkologi melakukan berbagai pemeriksaan rutin, meliputi: USG payudara dan perut, rontgen dada serta tes darah (tes petanda tumor). Pemeriksaan rutin ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini jika ada penyebaran kanker (metastasis) ke organ lain. Untuk kasus kanker payudara, biasanya kanker menyebar ke organ tubuh seperti otak, tulang, paru-paru dan hati.


<<<<<

Sebelumnya

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 1)

>>>>>>>

Baca Juga





 

 

2 komentar:

  1. Saya nggak tahu kalau proses kemoterapi sampai separah ini, saya pernah membaca tentang pejuang kanker juga dan merinding aja baca tentang Kangker Payudara, katanya sampai ada yang disilet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, saya nggak pernah dengar tentang yang disilet. Apa mungkin maksudnya operasi biopsi atau pengangkatan payudara? Yang saya baca, obat kemoterapi juga menyerang semua sel tubuh yang berkembang biak dengan cepat, seperti sel kanker, itu sebabnya efek samping yang umum dialami pasien adalah muntah-muntah dan rambut rontok, karena sel-sel pencernaan dan rambut kita tumbuh jauh lebih cepat dibanding yang lain.

      Hapus