Rabu, 03 Februari 2021

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 1)

1. Awal Mula (Akhir Maret – April 2019)

Semuanya bermula di suatu pagi, di akhir bulan Maret 2019. Saya tiba-tiba merasakan benjolan di payudara kiri saat saya hendak mandi. Saya terkejut karena tidak pernah mengetahui ada benjolan sedikitpun sebelumnya. Tetapi benjolan itu justru teraba cukup besar dan terkesan muncul tiba-tiba, tak pelak membuat saya sangat kaget dan takut.

Pikiran buruk bahwa benjolan itu benar tanda tumor/kanker membuat saya ragu-ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Saya merasa hati saya belum siap dan sebenarnya berharap itu hanya benjolan yang sifatnya sementara.

Namun, setelah seminggu benjolan itu tidak menghilang maupun mengecil, disertai dengan rasa nyeri di payudara kiri saya, sayapun memutuskan pergi ke seorang dokter umum praktek di dekat rumah. Niatnya ingin berkonsultasi apakah benjolan ini sesuatu yang harus saya waspadai dan perlu periksakan lebih lanjut atau tidak. Dokter itu menyarankan saya untuk mengobservasinya selama sebulan terlebih dahulu. Dan sayapun melakukan saran dokter tersebut. Yah, sebenarnya alasan lainnya saya tidak segera pergi ke Rumah Sakit karena kartu BPJS saya baru saya aktifkan kembali jadi perlu waktu hingga kartunya bisa dipakai untuk berobat.  

2. Rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit (Awal Mei 2019)

Kurang lebih sebulan kemudian, saya pergi ke puskesmas untuk meminta surat rujukan ke Rumah Sakit. Saya kemudian diarahkan ke Ruang KIA (Kesehatan Ibu & Anak). Di sana, saya diperiksa oleh dokter umum (yang kebetulan adalah wanita) dan seorang bidan. Setelah memastikan benar ada benjolan, saya pun segera dibuatkan surat rujukan ke salah satu Rumah Sakit Swasta di kota Mataram. Saya pun meluncur ke sana hari itu juga.

Oleh staf Customer Service di Rumah Sakit itu, saya pun diarahkan ke poli bedah umum, kemungkinan karena surat rujukan saya memang berbunyi demikian. Yang saya tidak tahu waktu itu adalah ternyata Rumah Sakit itu memiliki dokter onkologi, yakni dokter spesialis untuk tumor dan kanker, yang juga sekaligus bekerja di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP).

Dokter bedah umum yang menangani saya waktu itu pun memeriksa benjolan di payudara kiri saya dan berkomentar kalau ukuran benjolan ini lumayan besar, lantas meminta saya untuk melakukan USG payudara. Mendengar itu saya menjadi sedikit gelisah, karena untuk melakukan USG payudara berarti saya harus bertelanjang dada. Pikiran bahwa dokter yang akan melakukan USG mungkin saja laki-laki membuat saya tidak nyaman. Untungnya setelah bertanya-tanya ke perawat, saya mendapat informasi ada dokter USG wanita di Rumah Sakit itu, tapi saya baru bisa menemui dokter itu minggu depan.  

3. Hasil USG (Pertengahan Mei – Awal Juni 2019)

Seminggu kemudian, pada hari yang sama, saya pun kembali ke Rumah Sakit itu untuk melakukan USG. Selesai pemeriksaan, dokter menjelaskan hasilnya secara singkat. Di payudara kiri saya ditemukan benjolan padat berukuran ± 4cm dan dicurigai berbahaya, sedangkan di payudara kanan saya terdeteksi kista.

     Saat bertemu dengan dokter bedah umum yang menangani saya. Beliau pun menjelaskan kondisi saya dengan lebih detil. Benjolan di payudara kiri saya memiliki BIRADS 4, yang artinya ada kemungkinan yang cukup besar benjolan itu adalah tumor ganas (kanker). Sementara, payudara kanan saya memiliki BIRADS 3.

BIRADS, secara sederhana, adalah istilah untuk menggambarkan kemungkinan ganas atau tidaknya sebuah tumor. BIRADS terdiri dari 6 kategori, di mana nilai < 3 berarti kemungkinan besar tumor jinak dan biasanya tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan BIRADS dengan nilai 4 ke atas menunjukkan adanya potensi tumor ganas dan perlu dilakukan operasi biopsi untuk memastikannya. Operasi biopsi merupakan operasi pengambilan sampel jaringan tubuh, di mana sampel tersebut nantinya akan diperiksa di labororatorium untuk mengecek apakah sel-sel tumor tersebut bersifat ganas atau tidak.

Begitulah, melihat hasil USG saya dokter pun menyarankan untuk segera melakukan operasi biopsi untuk memastikan apakah tumor di payudara saya benar bersifat ganas atau tidak.

4. Mengabarkan Keluarga dan Menunggu Jadwal Operasi (Juni – Juli 2019)

Sebagai orang yang awam tentang tindakan medis yang tergolong besar seperti operasi, mau tidak mau saya menjadi gugup begitu mendengar saran dokter tersebut. Kata operasi, bagi saya dan mungkin banyak orang lainnya, terdengar berbahaya dan menakutkan, belum lagi biayanya yang mahal. Sehingga saya tidak mudah memutuskan untuk melakukan operasi biopsi meski dokter sudah menjelaskan itu satu-satunya cara untuk memastikan penyakit saya.

Terlebih lagi, saya perlu memberitahu orang tua dan keluarga. Dari awal periksa, saya melakukannya seorang diri. Kondisi saya saat itu masih belum pasti, jadi saya tidak ingin membuat mereka khawatir. Namun, untuk tindakan operasi ini, saya tentu tidak bisa melakukannya seorang diri. Masalahnya adalah jika mendengar kata operasi saja sudah membuat saya gugup, apalagi orang tua dan keluarga saya. Saya perlu berpikir bagaimana, tidak hanya memberitahukan tentang rencana operasi ini, tapi juga meyakinkan dan menenangkan mereka bahwa saya perlu melakukan operasi dan bahwa operasi ini tidak berbahaya. Kemudian, saya juga sebelumnya sudah memastikan ke dokter bahwa selama saya menggunakan BPJS dan tidak keluar dari kelas saya (kelas 1), maka tidak ada biaya yang perlu saya keluarkan untuk operasi ini.  

Setelah mendapat persetujuan dari keluarga, barulah saya mendaftarkan diri untuk operasi dan menunggu jadwal dari Rumah Sakit.

5. Operasi Biopsi (Awal Agustus 2019)

Operasi biopsi saya akhirnya terjadwalkan tanggal 8 Agustus. Ada jarak hampir 2 bulan sejak konsultasi terakhir saya dengan dokter. Kenapa jaraknya begitu lama? Ada dua penyebabnya. Pertama, karena saya menunda mendaftar operasi sebelum mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Kedua, karena saya ‘menolak panggilan’ Rumah Sakit yang pertama.

Kurang lebih seminggu setelah saya mendaftarkan diri untuk jadwal operasi, saya mendapat telepon dari pihak Rumah Sakit untuk masuk kamar (rawat inap) hari itu juga. Karena pemberitahuannya sangat mendadak, sementara anggota keluarga yang bisa menemani saya di Rumah Sakit ada di Lombok Timur (saya di Lombok Barat), saya akhirnya meminta untuk menunda dan menunggu jadwal berikutnya.

Saya pikir akan bisa mendapat jadwal paling tidak minggu depannya, karena jarak saya mendaftar dan dihubungi Rumah Sakit hanya butuh waktu satu minggu. Tahu-tahunya, saya baru dipanggil lagi sebulan kemudian. Setelah mendapat panggilan telepon, saya pun segera meluncur ke Rumah Sakit, mendaftarkan diri untuk rawat inap dan menjalani berbagai tes wajib pra-operasi (tes lab darah dan rontgen dada).

Operasi biopsi saya dilakukan keesokan sorenya. Operasi itu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Saya hanya ingat masuk ruang operasi sekitar jam 4 sore, dan terbangun kembali di ruangan inap saya ketika sudah malam (mungkin sekitar magrib atau isya). Saya juga ingat bagaimana terkejutnya saya saat menemukan sebuah tabung suntikan besar berisi darah yang terhubung dengan selang ke bagian dada kiri saya. Sepertinya itu untuk menampung sisa darah paska operasi.

Saya keluar dari Rumah Sakit dua hari kemudian. Dokter menjelaskan bahwa hasil biopsi saya akan keluar kira-kira dalam dua minggu ke depan.

6.  Hasil Biopsi (Akhir Agustus 2019)

Sekitar dua minggu setelahnya, saya mendapat SMS memberitahukan hasil patologi anatomi (hasil biopsi) saya sudah dapat diambil di Rumah Sakit. Kesimpulan pemeriksaan itu berbunyi sebagai berikut “Invasive Ductal Carcinoma, Grade 1”. Begitu mata saya menangkap kata “invasive”, rasa takut menyergap saya. Segera saya mencari tahu di Google apa yang dimaksud dengan Invasive Ductal Carcinoma.

 Sebenarnya, dari informasi yang saya baca, bahkan mungkin sejak pertama kali melihat kata “invasive”, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa saya positif terkena kanker. Saya lantas mengontak dokter yang menangani saya lewat whatsapp, mengirimkan foto hasil patologi tersebut, dan meminta penjelasan dari beliau. Namun, jawaban dokter hanya memperkuat kekecewaan dan ketakutan saya.

Malamnya, saya menemui dokter itu di Rumah Sakit untuk mengkonsultasikan secara langsung hasil patologi anatomi yang saya terima hari itu. Jika biasanya, saya pergi ditemani adik perempuan saya, malam itu saya meminta seorang anggota keluarga saya yang lain untuk turut serta. Saya punya firasat bahwa saya mungkin tidak akan bisa mendengarkan penjelasan dokter dengan baik, dan butuh setidaknya dua orang untuk menemani saya di ruang dokter.

Meskipun saya sudah diberitahu sebelumnya, akan tetapi mendengar dari dokternya langsung ternyata memiliki bobot yang jauh berbeda. Seperti dugaan saya, mulai dari pertengahan penjelasan dokter, saya sudah tidak bisa mendengarnya dengan baik.

 Pikiran saya terasa mengambang, suara-suara di sekitar saya tertangkap samar di telinga, tubuh saya sedikit bergetar dan pandangan saya kabur (karena air mata). Saya sudah menyerah untuk mengontrol emosi dan ekspresi wajah saya. Saat akan keluar dari ruangan, dokter menjabat tangan saya, tersenyum serta memberikan kata-kata penyemangat. Tetapi alih-alih balas tersenyum atau mengucapkan terima kasih, saya memalingkan pandangan saya. Saya tidak sanggup menatap wajah dokter yang saya tahu sedang berusaha menghibur saya. Hati saya terlanjur merasa miris.

Meskipun tidak sempurna, saya sempat menangkap beberapa penjelasan dokter tentang apa yang akan selanjutnya perlu saya lakukan. Salah satunya, yang utama, adalah dokter akan merujuk saya ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) untuk menjalani kemoterapi.

Di luar, saya duduk menunggu surat rujukan ke RSUP yang sedang dibuatkan perawat. Dan saat itulah, air mata saya sepenuhnya tumpah. Walaupun sudah cukup malam, masih ada cukup banyak orang di sekitar saya maupun yang berlalu lalang di depan saya. Tetapi saya tidak menghiraukannya. Untuk beberapa saat, saya menangis dalam diam. Itulah kali pertama saya mengalami kalimat “dunia saya seakan runtuh” yang sering saya baca di buku-buku. Tangis saya terpaksa mereda setelah mendengar nama saya dipanggil. Seroang perawat menghampiri saya dan menyerahkan surat rujukan ke RSUP untuk saya. Lalu, kami bertiga pun pulang ke rumah.


>>>>

Baca Juga:

 Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 2)

Baca Juga:

Seputar Kanker dan Covid-19

 

x

3 komentar:

  1. kira kira apa penyebab kangker payudara? apa laki laki kayak saya juga bisa kena?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umumnya, penyebab kanker payudara adalah perubahan hormon dalam tubuh, tapi tidak ada yang tahu penyebab pastinya, dan ini berlaku untuk semua jenis kanker, kecuali kanker paru-paru yang biasanya diakibatkan karena kebiasaan merokok.

      Dan iya, laki-laki juga bisa kena kanker payudara, walaupun presentasenya dibanding perempuan lebih kecil.

      Untuk kanker biasanya yang lebih dikenal adalah faktor resiko, antara lain usia lanjut, genetik, obesitas, pola hidup tidak sehat (termasuk merokok, minum alkohol, dan kurang aktivitas fisik).

      Semoga informasi ini bermanfaat.

      Hapus