1. Awal Mula (Akhir Maret – April 2019)
Semuanya bermula di
suatu pagi, di akhir bulan Maret 2019. Saya tiba-tiba merasakan benjolan di
payudara kiri saat saya hendak mandi. Saya terkejut karena tidak pernah
mengetahui ada benjolan sedikitpun sebelumnya. Tetapi benjolan itu justru teraba
cukup besar dan terkesan muncul tiba-tiba, tak pelak membuat saya sangat kaget
dan takut.
Pikiran buruk bahwa
benjolan itu benar tanda tumor/kanker membuat saya ragu-ragu untuk memeriksakan
diri ke dokter. Saya merasa hati saya belum siap dan sebenarnya berharap itu
hanya benjolan yang sifatnya sementara.
Namun, setelah
seminggu benjolan itu tidak menghilang maupun mengecil, disertai dengan rasa
nyeri di payudara kiri saya, sayapun memutuskan pergi ke seorang dokter umum
praktek di dekat rumah. Niatnya ingin berkonsultasi apakah benjolan ini sesuatu
yang harus saya waspadai dan perlu periksakan lebih lanjut atau tidak. Dokter
itu menyarankan saya untuk mengobservasinya selama sebulan terlebih dahulu. Dan
sayapun melakukan saran dokter tersebut. Yah, sebenarnya alasan lainnya saya tidak
segera pergi ke Rumah Sakit karena kartu BPJS saya baru saya aktifkan kembali
jadi perlu waktu hingga kartunya bisa dipakai untuk berobat.
2. Rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit (Awal Mei
2019)
Kurang lebih sebulan kemudian, saya pergi ke puskesmas
untuk meminta surat rujukan ke Rumah Sakit. Saya kemudian diarahkan ke Ruang
KIA (Kesehatan Ibu & Anak). Di sana, saya diperiksa oleh dokter umum (yang
kebetulan adalah wanita) dan seorang bidan. Setelah memastikan benar ada
benjolan, saya pun segera dibuatkan surat rujukan ke salah satu Rumah Sakit
Swasta di kota Mataram. Saya pun meluncur ke sana hari itu juga.
Oleh staf Customer
Service di Rumah Sakit itu, saya pun diarahkan ke poli bedah umum,
kemungkinan karena surat rujukan saya memang berbunyi demikian. Yang saya tidak
tahu waktu itu adalah ternyata Rumah Sakit itu memiliki dokter onkologi, yakni
dokter spesialis untuk tumor dan kanker, yang juga sekaligus bekerja di Rumah
Sakit Umum Provinsi (RSUP).
Dokter bedah
umum yang menangani saya waktu itu pun memeriksa benjolan di payudara kiri saya
dan berkomentar kalau ukuran benjolan ini lumayan besar, lantas meminta saya
untuk melakukan USG payudara. Mendengar itu saya menjadi sedikit gelisah, karena
untuk melakukan USG payudara berarti saya harus bertelanjang dada. Pikiran
bahwa dokter yang akan melakukan USG mungkin saja laki-laki membuat saya tidak
nyaman. Untungnya setelah bertanya-tanya ke perawat, saya mendapat informasi ada
dokter USG wanita di Rumah Sakit itu, tapi saya baru bisa menemui dokter itu
minggu depan.
3. Hasil USG (Pertengahan Mei – Awal Juni 2019)
Seminggu kemudian,
pada hari yang sama, saya pun kembali ke Rumah Sakit itu untuk melakukan USG.
Selesai pemeriksaan, dokter menjelaskan hasilnya secara singkat. Di payudara
kiri saya ditemukan benjolan padat berukuran ± 4cm dan dicurigai berbahaya, sedangkan
di payudara kanan saya terdeteksi kista.
Saat
bertemu dengan dokter bedah umum yang menangani saya. Beliau pun menjelaskan
kondisi saya dengan lebih detil. Benjolan di payudara kiri saya memiliki BIRADS
4, yang artinya ada kemungkinan yang cukup besar benjolan itu adalah tumor
ganas (kanker). Sementara, payudara kanan saya memiliki BIRADS 3.
BIRADS, secara
sederhana, adalah istilah untuk menggambarkan kemungkinan ganas atau tidaknya sebuah
tumor. BIRADS terdiri dari 6 kategori, di mana nilai < 3 berarti kemungkinan
besar tumor jinak dan biasanya tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Sedangkan BIRADS dengan nilai 4 ke atas menunjukkan adanya potensi tumor ganas
dan perlu dilakukan operasi biopsi untuk memastikannya. Operasi biopsi
merupakan operasi pengambilan sampel jaringan tubuh, di mana sampel tersebut
nantinya akan diperiksa di labororatorium untuk mengecek apakah sel-sel tumor
tersebut bersifat ganas atau tidak.
Begitulah, melihat
hasil USG saya dokter pun menyarankan untuk segera melakukan operasi biopsi
untuk memastikan apakah tumor di payudara saya benar bersifat ganas atau tidak.
4. Mengabarkan Keluarga dan Menunggu Jadwal Operasi
(Juni – Juli 2019)
Sebagai orang yang
awam tentang tindakan medis yang tergolong besar seperti operasi, mau tidak mau
saya menjadi gugup begitu mendengar saran dokter tersebut. Kata operasi, bagi
saya dan mungkin banyak orang lainnya, terdengar berbahaya dan menakutkan, belum
lagi biayanya yang mahal. Sehingga saya tidak mudah memutuskan untuk melakukan
operasi biopsi meski dokter sudah menjelaskan itu satu-satunya cara untuk
memastikan penyakit saya.
Terlebih lagi, saya perlu memberitahu orang
tua dan keluarga. Dari awal periksa, saya melakukannya seorang diri. Kondisi
saya saat itu masih belum pasti, jadi saya tidak ingin membuat mereka khawatir.
Namun, untuk tindakan operasi ini, saya tentu tidak bisa melakukannya seorang
diri. Masalahnya adalah jika mendengar kata operasi saja sudah membuat saya
gugup, apalagi orang tua dan keluarga saya. Saya perlu berpikir bagaimana,
tidak hanya memberitahukan tentang rencana operasi ini, tapi juga meyakinkan
dan menenangkan mereka bahwa saya perlu melakukan operasi dan bahwa operasi ini
tidak berbahaya. Kemudian, saya juga sebelumnya sudah memastikan ke dokter
bahwa selama saya menggunakan BPJS dan tidak keluar dari kelas saya (kelas 1),
maka tidak ada biaya yang perlu saya keluarkan untuk operasi ini.
Setelah mendapat
persetujuan dari keluarga, barulah saya mendaftarkan diri untuk operasi dan
menunggu jadwal dari Rumah Sakit.
5. Operasi Biopsi (Awal Agustus 2019)
Operasi biopsi saya akhirnya terjadwalkan tanggal 8
Agustus. Ada jarak hampir 2 bulan sejak konsultasi terakhir saya dengan dokter.
Kenapa jaraknya begitu lama? Ada dua penyebabnya. Pertama, karena saya menunda
mendaftar operasi sebelum mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Kedua,
karena saya ‘menolak panggilan’ Rumah Sakit yang pertama.
Kurang lebih seminggu setelah saya mendaftarkan diri
untuk jadwal operasi, saya mendapat telepon dari pihak Rumah Sakit untuk masuk
kamar (rawat inap) hari itu juga. Karena pemberitahuannya sangat mendadak,
sementara anggota keluarga yang bisa menemani saya di Rumah Sakit ada di Lombok
Timur (saya di Lombok Barat), saya akhirnya meminta untuk menunda dan menunggu
jadwal berikutnya.
Saya pikir akan bisa mendapat jadwal paling tidak
minggu depannya, karena jarak saya mendaftar dan dihubungi Rumah Sakit hanya
butuh waktu satu minggu. Tahu-tahunya, saya baru dipanggil lagi sebulan
kemudian. Setelah mendapat panggilan telepon, saya pun segera meluncur ke Rumah
Sakit, mendaftarkan diri untuk rawat inap dan menjalani berbagai tes wajib
pra-operasi (tes lab darah dan rontgen dada).
Operasi biopsi saya dilakukan keesokan sorenya. Operasi
itu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Saya hanya ingat masuk ruang operasi
sekitar jam 4 sore, dan terbangun kembali di ruangan inap saya ketika sudah
malam (mungkin sekitar magrib atau isya). Saya juga ingat bagaimana terkejutnya
saya saat menemukan sebuah tabung suntikan besar berisi darah yang terhubung
dengan selang ke bagian dada kiri saya. Sepertinya itu untuk menampung sisa
darah paska operasi.
Saya keluar dari Rumah Sakit dua hari kemudian. Dokter
menjelaskan bahwa hasil biopsi saya akan keluar kira-kira dalam dua minggu ke
depan.
6. Hasil Biopsi (Akhir Agustus 2019)
Sekitar dua minggu
setelahnya, saya mendapat SMS memberitahukan hasil patologi anatomi (hasil
biopsi) saya sudah dapat diambil di Rumah Sakit. Kesimpulan pemeriksaan itu
berbunyi sebagai berikut “Invasive Ductal
Carcinoma, Grade 1”. Begitu mata saya menangkap kata “invasive”, rasa takut menyergap saya. Segera saya mencari tahu di
Google apa yang dimaksud dengan Invasive
Ductal Carcinoma.
Sebenarnya,
dari informasi yang saya baca, bahkan mungkin sejak pertama kali melihat kata “invasive”, saya sudah bisa menyimpulkan
bahwa saya positif terkena kanker. Saya lantas mengontak dokter yang menangani
saya lewat whatsapp, mengirimkan foto hasil patologi tersebut, dan meminta
penjelasan dari beliau. Namun, jawaban dokter hanya memperkuat kekecewaan dan
ketakutan saya.
Malamnya, saya
menemui dokter itu di Rumah Sakit untuk mengkonsultasikan secara langsung hasil
patologi anatomi yang saya terima hari itu. Jika biasanya, saya pergi ditemani
adik perempuan saya, malam itu saya meminta seorang anggota keluarga saya yang
lain untuk turut serta. Saya punya firasat bahwa saya mungkin tidak akan bisa
mendengarkan penjelasan dokter dengan baik, dan butuh setidaknya dua orang
untuk menemani saya di ruang dokter.
Meskipun saya sudah
diberitahu sebelumnya, akan tetapi mendengar dari dokternya langsung ternyata
memiliki bobot yang jauh berbeda. Seperti dugaan saya, mulai dari pertengahan
penjelasan dokter, saya sudah tidak bisa mendengarnya dengan baik.
Pikiran saya terasa mengambang, suara-suara di
sekitar saya tertangkap samar di telinga, tubuh saya sedikit bergetar dan
pandangan saya kabur (karena air mata). Saya sudah menyerah untuk mengontrol
emosi dan ekspresi wajah saya. Saat akan keluar dari ruangan, dokter menjabat
tangan saya, tersenyum serta memberikan kata-kata penyemangat. Tetapi alih-alih
balas tersenyum atau mengucapkan terima kasih, saya memalingkan pandangan saya.
Saya tidak sanggup menatap wajah dokter yang saya tahu sedang berusaha
menghibur saya. Hati saya terlanjur merasa miris.
Meskipun tidak
sempurna, saya sempat menangkap beberapa penjelasan dokter tentang apa yang
akan selanjutnya perlu saya lakukan. Salah satunya, yang utama, adalah dokter
akan merujuk saya ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) untuk menjalani
kemoterapi.
Di luar, saya duduk menunggu surat rujukan ke
RSUP yang sedang dibuatkan perawat. Dan saat itulah, air mata saya sepenuhnya
tumpah. Walaupun sudah cukup malam, masih ada cukup banyak orang di sekitar
saya maupun yang berlalu lalang di depan saya. Tetapi saya tidak
menghiraukannya. Untuk beberapa saat, saya menangis dalam diam. Itulah kali
pertama saya mengalami kalimat “dunia saya seakan runtuh” yang sering saya baca
di buku-buku. Tangis saya terpaksa mereda setelah mendengar nama saya
dipanggil. Seroang perawat menghampiri saya dan menyerahkan surat rujukan ke
RSUP untuk saya. Lalu, kami bertiga pun pulang ke rumah.
x
kira kira apa penyebab kangker payudara? apa laki laki kayak saya juga bisa kena?
BalasHapusUmumnya, penyebab kanker payudara adalah perubahan hormon dalam tubuh, tapi tidak ada yang tahu penyebab pastinya, dan ini berlaku untuk semua jenis kanker, kecuali kanker paru-paru yang biasanya diakibatkan karena kebiasaan merokok.
HapusDan iya, laki-laki juga bisa kena kanker payudara, walaupun presentasenya dibanding perempuan lebih kecil.
Untuk kanker biasanya yang lebih dikenal adalah faktor resiko, antara lain usia lanjut, genetik, obesitas, pola hidup tidak sehat (termasuk merokok, minum alkohol, dan kurang aktivitas fisik).
Semoga informasi ini bermanfaat.
Halo kak Shira, gimana kabar?
Hapus