Senin, 01 Maret 2021

Seputar Kanker dan Covid-19: Kerentanan Penderita Kanker dan Vaksinasi Covid-19

Halo rekan pejuang dan penyintas! Salam sehat dan bahagia!

    Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti webinar bertema ‘Penatalaksanaan Kanker di Era Pandemi Covid-19’ yang diselenggarakan oleh PERABOI (Persatuan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) Nusa Tenggara. Banyak topik menarik yang dipresentasikan, salah satunya adalah presentasi yang disampaikan oleh Prof. dr. Tjandra Manuaba.

    Presentasi beliau yang berjudul ‘Vaksin Covid-19 Pada Pasien Kanker’ banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat awam, khususnya penderita dan penyintas kanker, seperti ‘Benarkah penderita kanker rentan terhadap infeksi covid-19?’ dan ‘Amankah vaksin covid-19 diberikan pada penderita kanker?’.

    Untuk itu, saya akan merangkumkan hasil presentasi tersebut dengan didukung juga informasi tambahan yang saya peroleh dari sumber lain yang relevan.

 

#1. Benarkah penderita kanker rentan terhadap Covid-19?

    Keberadaan sel-sel kanker membuat sistem imun di tubuh penderitanya terganggu atau melemah. Dan seperti yang sudah umum diketahui, orang yang memiliki imun lemah lebih mudah terinfeksi covid-19 serta lebih sukar melawan virus yang menyerang tubuhnya dan menyembuhkan diri.

 

#2. Apakah semua penderita kanker mempunyai sistem imun yang lebih rendah?

   Tidak selalu. Khususnya para penyintas kanker, dikatakan bahwa sistem imun mereka tidak terlalu berbeda dengan masyarakat umum kebanyakan.  

   

#3. Bagaimana dengan penderita kanker yang sedang menjalani perawatan, seperti kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, dsb.?

    Pada pasien kanker, sistem imun yang melemah tidak hanya disebabkan oleh penyakit kanker itu sendiri, namun juga dampak dari pengobatan kanker yang sedang dijalaninya. Pemberian terapi seperti kemo, radiasi dan hormonal, serta obat-obat kanker lainnya selain melemahkan atau menghancurkan sel kanker dalam tubuh, di sisi lain juga menurunkan sistem imun penderita.

    Kemoterapi atau radioterapi, misalnya, dapat mengurangi produksi sel-sel darah putih yang merupakan bagian penting dari sistem imun tubuh untuk melawan infeksi atau penyakit tertentu.

 

#4. Bagaimakanah infeksi Covid-19 berkolerasi dengan penyakit kanker?

    Selain memodulasi sistem imun tubuh, terapi dan obat-obat kanker juga biasanya mengakibatkan efek samping seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), kardiomiopati (lemah jantung), fibrosis paru (sejenis penyakit paru), dsb. yang dapat memperberat gejala infeksi Covid-19 yang dialami pasien dengan komorbid (penyakit penyerta) kanker. Dan di sisi lain, pasien kanker cenderung mengkonsumsi berbagai macam obat sehingga meningkatkan potensi mengalami efek samping yang disebutkan di atas.

    Selain itu, penyakit kanker umum dijumpai pada orang berusia lanjut, dikarenakan kerja sistem imum mengalami penurunan seiring penuaan sehingga kanker lebih mudah menyerang. Seperti yang banyak diketahui, usia lanjut berhubungan kuat dengan kerentanan terhadap covid-19 dan keparahan kondisi pasien yang terinfeksi. Itu sebabnya, pasien dengan usia lebih tua yang menderita kanker dan terkonfirmasi terinfeksi covid-19 berpeluang lebih tinggi untuk memiliki fatalitas kasus, akibat penurunan fungsi kekebalan tubuh dan peningkatan peradangan kanker.

    Secara umum, diketahui rasio penderita kanker dengan gejala infeksi yang lebih berat lebih tinggi dibandingkan populasi yang bukan penderita kanker.

    Pasien kanker dengan Covid-19 memiliki kerentanan sbb:

  • Tingkat lebih tinggi dengan setidaknya satu gejala berat/kritis
  • Berpeluang lebih tinggi membutuhkan alat bantu pernafasan
  • Tingkat admisi ruang ICU lebih tinggi
  • Tingkat kematian lebih tinggi

Selanjutnya, perkembangbiakan virus Covid-19 yang meningkat akan menyebabkan fungsi sistem imun terganggu, yang kemudian membuat perkembangan virus menjadi semakin tidak terkendali, dan pada akhirnya berdampak pada perkembangan sel-sel kanker. Sehingga, penyakit kanker dan infeksi Covid-19 akan dapat mempengaruhi atau memperburuk kondisi penyakit satu sama lainnya.

 

#5. Apakah semua pasien kanker mempunyai reaksi imun yang sama terhadap covid-19?

    Tidak. Hal ini akan bergantung pada jenis kanker dan tingkat keparahan peradangan kanker. Pada umumnya, penderita kanker dengan keganasan hematologis, yakni jenis kanker yang menyerang darah, sumsum tulang belakang, dan kelenjar getah bening, memiliki tingkat keparahan infeksi Covid-19 yang lebih buruk. Namun, informasi mengenai hubungan perbedaan jenis kanker dan tingkat peradangannya pada reaksi tubuh terhadap Covid-19 ini belum diketahui secara lebih mendalam.

 

#6. Amankah vaksin covid-19 diberikan kepada penderita kanker?

    Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengenal jenis-jenis vaksin yang dikembangkan untuk Covid-19 ini, yaitu:

  • Vaksin mati / inaktivasi, merupakan vaksin yang dibuat dari virus Covid-19 yang sudah dimatikan.
  • Vaksin hidup-dilemahkan, jenis vaksin ini dibuat dari virus Covid-19 yang masih hidup tapi sudah dilemahkan.
  • Vaksin viral vektor, vaksin ini memanfaatkan versi modifikasi dari virus lain.
  • Vaksin sub-unit, adalah vaksin yang mengandung sebagian dari komponen virus (protein).
  • Vaksin dari material genetik (asam nukleat), vaksin jenis ini dikembangkan dari materi genetik dari virus Covid-19, atau dalam hal ini, RNA-nya.

Dari kelima jenis vaksin di atas, vaksin dari virus hidup yang sudah dilemahkan tidak boleh diberikan kepada seseorang yang memiliki kelainan sistem imun seperti penderita kanker dan HIV.

Jadi, selain dari vaksin tersebut, keempat vaksin lain pada dasarnya aman untuk diberikan kepada penderita kanker. Bahkan, penderita kanker termasuk dalam kelompok beresiko tinggi yang membutuhkan vaksinasi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap Covid-19.

Namun, penderita tetap perlu berkonsultasi dengan dokternya terlebih dahulu mengenai hal ini dan memastikan untuk memberitahu petugas vaksin bahwa Anda sedang mengidap atau seorang penyintas kanker.

_________________________________

 

Referensi

1.       Vaksin Covid-19 Pada Pasien Kanker, disampaikan oleh Prof. DR. dr. IB. Tjakra Wibawa Manuaba, MPH, Sp.B(K)Onk, FINACS, pada Webinar ‘Penatalaksanaan Kanker di Era Pandemi Covid-19’, Sabtu, 20 Februari 2021

2.       Pelayanan Kanker di Era Pandemi, disampaikan oleh dr. Ramses Indriawan, Sp.B(K)Onk,  pada Webinar ‘Penatalaksanaan Kanker di Era Pandemi Covid-19’, Sabtu, 20 Februari 2021

3.       Dampak COVID-19 pada Penderita Kanker dan Langkah Pencegahannya. dr. Kevin Adrian. 27 Mei 2020. https://www.alodokter.com/dampak-covid-19-pada-penderita-kanker-dan-langkah-pencegahannya

4.       Pasien Kanker Dapat Menerima Vaksin COVID-19 Asal Tetap Dalam Pengawasan Medis. Covid19.go.id. 06 Feb 2021. https://covid19.go.id/edukasi/masyarakat-umum/pasien-kanker-dapat-menerima-vaksin-covid-19-asal-tetap-dalam-pengawasan-medis

5.       Empat Tipe Vaksin yang Dipakai untuk Vaksinasi Covid-19. CNN Indonesia. 23 Desember 2020. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20201223111419-199-585565/empat-tipe-vaksin-yang-dipakai-untuk-vaksinasi-covid-19   

6.       Understanding and Explaining Viral Vector COVID-19 Vaccines. Centers for Disease Control and Prevention. 17 Februari 2021. https://www.cdc.gov/vaccines/covid-19/hcp/viral-vector-vaccine-basics.html

 

 <<<

Baca Juga

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 1)




Rabu, 03 Februari 2021

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 2)

 Ke Rumah Sakit Umum Provinsi (September 2019)

Membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Islam (RSI), keesokan harinya adik saya segera pergi mendaftarkan saya ke RSUP. Sayangnya, Poli Onkologi di sana tutup hari jumat dan sabtu. Tidak hanya itu, kedua dokter onkologi sedang menghadiri seminar di luar daerah selama seminggu ke depan. Oleh karena itu, saya baru bisa menemui dokter onkologi untuk pertama kali saat memasuki awal September 2019.

Saat bertemu salah satu dokter onkologi di RSUP itu, saya mendapat kabar buruk. Dokter meminta saya melakukan operasi biopsi ulang. Alasannya karena pengawetan sampel tumor saya dari operasi sebelumnya tidak menggunakan buffer formalin, sehingga sampel tersebut tidak dapat digunakan kembali untuk melakukan uji imunohistokimia. Imunohistokimia, secara sederhana, adalah pemeriksaan untuk menentukan hormon penanda tumor yang dimiliki pasien kanker, khususnya kanker payudara. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan terapi obat hormonal yang akan diberikan.

Untuk persiapan operasi, saya kembali melakukan tes darah, sedangkan rontgen dada tidak dilakukan karena rontgen sebelumnya di RSI belum lewat 3 bulan. Saya lalu dikirim ke Poli Penyakit Dalam untuk pengecekan kesiapan operasi. Dokter memeriksa hasil tes-tes di atas dan menanyakan beberapa pertanyaan tentang riwayat asma, alergi dan penyakit lain. Setelah di-acc dokter penyakit dalam, saya kembali ke Poli Onkologi, baru setelahnya saya bisa mendaftar operasi.


Biopsi Ulang dan Imunohistokimia (Akhir September – Pertengahan Oktober 2019)

Operasi biopsi ulang saya dilakukan sekitar dua minggu kemudian. Hampir tidak ada yang berbeda dari operasi biopsi saya sebelumnya. Jika ada yang berbeda, dan tidak menyenangkan, adalah fakta bahwa kini hampir setengah payudara kiri atas saya amblas. Sepertinya memang sudah prosedurnya untuk mengangkat sebagian besar tumor dan menyisakan sebagian kecil lainnya. Hanya saja, yang membuat saya kecewa adalah karena saya tidak diberitahu tentang hal ini sebelumnya, sehingga hati saya tidak siap dan sempat syok saat melihat bentuk payudara saya setelah operasi. Saya pikir, sama seperti operasi sebelumnya, dokter hanya akan mengambil sebagian kecil saja.

Setelah hampir dua minggu berlalu, saya mendapatkan hasil patologi anatomi (PA) saya. Kali ini, hasil biopsi berbunyi seperti ini “Invasive Carcinoma of NOS”. Ini artinya kanker saya adalah jenis karsinoma (kanker yang berasal dari sel jaringan organ) tanpa tipe khusus (NOS = Not Otherwise Specified).

Setelah hasil PA saya keluar, dokter lalu menyarankan untuk melakukan pengujian imunohistokimia.  Tidak seperti pemeriksaan patologi sebelumnya yang ditanggung BPJS, kali ini saya perlu membayar sendiri. Dan karena sampelnya sendiri sudah diawetkan dengan cukup baik hingga mampu bertahan lama, dokter tidak menginstruksikan saya untuk buru-buru melakukan uji imunohistokimia. Akan tetapi, memang disarankan lebih cepat lebih baik.

Hasil imunohistokimia memakan waktu yang sama dengan hasil patologi sebelumnya, sekitar 14 hari. Dari empat hormon penanda tumor yang diuji, tiga diantaranya positif. Lebih tepatnya, hasil imunohistokimia saya sebagai berikut: ER+, PR-, Her2 +3, dan Ki-67+.


Kemoterapi (Akhir Oktober 2019 – Mei 2020)

       Setelah hasil biopsi ulang saya keluar, saya pun bersiap-siap untuk melakukan pengobatan kanker pertama saya, yakni kemoterapi. Sama seperti kebanyakan pasien kanker lainnya, saya direncanakan melakukan 6 sesi kemoterapi. Jarak dari setiap sesi adalah tiga minggu. Waktu tiga minggu ini adalah waktu bagi saya untuk memulihkan diri dari efek kemo sebelum melakukan sesi kemo berikutnya.

        Sebelum kemoterapi, saya diminta melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau sederhananya pemeriksaan jantung dan tes darah. Hal ini untuk mengetahui apakah kondisi fisik saya siap menjalani kemoterapi dan menahan efeknya yang dikenal berat pada tubuh.

Namun, hal yang dibutuhkan sebelum kemoterapi bukan hanya persiapan fisik. Persiapan mental juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Saya banyak membaca tentang kemoterapi, terutama efek sampingnya yang sering muncul. Saya perlu menyiapkan hati saya untuk hal-hal yang mungkin akan saya alami, seperti mual muntah berat, rambut rontok, tubuh melemah, dsb.

Kabarnya efek samping berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang merasakan efek yang ringan, sedang, sampai berat. Untuk saya sendiri, efek samping yang sering saya alami antara lain: mual, muntah, perut kembung, konstipasi, dan sariawan mulut. Biasanya saya muntah-muntah sampai hari ketiga paska kemo, sementara efek samping lainnya normalnya bertahan sampai hari ketujuh sampai kesembilan. Setelahnya, keadaan saya mulai perlahan-lahan normal. Nafsu makan saya kembali seperti biasa, tubuh saya tidak selemah sebelumnya. Memasuki minggu ketiga, biasanya kondisi saya sudah sepenuhnya pulih (yah, tidak sepenuhnya seperti sebelum kemo) dan saya sudah bisa melakukan aktivitas fisik yang lebih berat.

Tiga minggu setelah kemoterapi pertama saya, rambut saya mulai rontok parah. Saya pikir rambut saya akan rontoh sedikit demi sedikit dan menyangka butuh waktu setidaknya berminggu-minggu sampai rambut saya rontok sepenuhnya. Tapi ternyata, hanya dalam hitungan hari, bahkan tidak sampai seminggu, rambut saya hampir luruh total. Karena sedih melihat kali menyisir rambut saya yang rontok, saya akhirnya memutuskan untuk sekalian menggunduli kepala saya.

Secara singkat, beginilah siklus 3-minggu sesi kemoterapi saya. Minggu pertama lemah dan mual muntah, minggu kedua mulai pulih, lalu di minggu ketiga saya kembali menyiapkan diri untuk sesi kemo berikutnya: konsultasi ke dokter onkologi, tes darah, mendaftar untuk dapat jadwal rawat inap, dst.


Mastektomi / Operasi Pengangkatan Payudara (Awal Maret 2020)

Seharusnya, setelah sesi kemoterapi ketiga, saya perlu melakukan operasi pengangkatan payudara, baru sesi kemoterapinya dilanjutkan. Namun, karena ada miskomunikasi antara saya dan dokter waktu itu, operasi mastektomi saya dilakukan setelah kemoterapi kelima saya di bulan Januari 2020.

Saya perlu menunggu sebulan hingga jadwal operasi saya tiba. Persiapan pra-operasinya tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Waktu operasi yang dibutuhkan kurang lebih dua kali lipat dari operasi biopsi. Saya masuk ruang operasi sekitar jam 10 pagi dan baru kembali ke kamar inap saya sekitar sore harinya. Tidak butuh waktu lama sampai saya bisa menggerakkkan anggota tubuh saya seperti biasa. Tetapi, oleh perawat saya dilarang bangun dari tempat tidur (karena luka operasi di dada saya yang masih basah).

Saya baru diperbolehkan dokter bangun dan berjalan-jalan di sekitar keesokan paginya. Setiap kali berpindah tempat saya perlu membopong kedua kantong darah dan selangnya yang menjulur dari dada kiri saya, belum lagi tiang infus yang terpasang di tangan kanan saya. Dua hari kemudian saya diberi izin pulang ke rumah.

Payudara kiri saya yang diangkat dikirim ke laboratorium untuk diperiksa apakah bagian tepi dan dasarnya bersih dari tumor. Hasil pemeriksaan patologinya saya dapatkan sekitar seminggu kemudian. Alhamdulillah, hasilnya bagus. Tidak tampak sisa tumor maupun metastasis (penyebaran kanker).


Radioterapi (Akhir September – Awal November 2020)

       Sekitar 4 bulan setelah sesi kemoterapi terakhir saya di bulan Mei, saya dikirim ke Poli Radioterapi untuk mendapatkan terapi sinar (radioterapi). Saat pertama kali bertemu dokter radioterapi di sana, beliau mengatakan bahwa saya hampir datang terlambat. Tujuh bulan berlalu sejak operasi pengangkatan payudara saya. Jika saya datang sebulan lebih lambat, maka terapi sinar tidak akan lagi memiliki efek. Begitulah yang dijelaskan dokter.

     Sebelum memulai sesi radioterapi, pertama-tama saya menjalani simulasi terapi untuk menentukan area penyinaran di tubuh saya. Bagian atas dan bawah dada saya, sampai sisi tubuh di bawah ketika, digambar dengan spidol untuk menandai batas penyinaran. Gambar spidol ini tidak boleh hilang, jadi selama sesi radioterapi saya tidak diperbolehkan membersihkan tubuh bagian atas (sekitar dada) dengan air.

      Saya pun kemudian dijadwalkan menjalani 30 sesi radioterapi. Radioterapi atau penyinaran dilakukan setiap hari selama hari kerja (senin – jumat). Sesi radioterapinya sendiri tidak memakan banyak waktu. Mungkin hanya sekitar 10 menit. Keseluruh sesi radioterapi saya selesaikan dalam waktu 1,5 bulan.

   Sebelum mulai penyinaran, saya dijelaskan bahwa saya mungkin akan mengalami efek samping yang mirip dengan saat kemoterapi tapi biasanya jauh lebih ringan, seperti mual muntah, sariawan/nyeri mulut, kehilangan indra perasa, mencret, dsb. Namun, sama seperti kemoterapi, efek samping ini dialami berbeda oleh tiap-tiap orang.

Untuk saya sendiri, efek samping yang saya alami hanyalah rasa nyeri di bagian mulut dan lidah saya tidak bisa merasakan rasa makanan dengan baik. Jadi, selama efek samping ini saya rasakan, saya tidak bisa makan dengan baik, membuat berat badan saya sedikit turun. Selain itu, tubuh saya juga terasa agak lemah. Tapi memang benar efeknya tidak seberat kemoterapi.

Saat mendekati sesi-sesi akhir, area kulit yang terkena sinar mulai lecet sedikit demi sedikit. Luka lecetnya terutama di bawah ketiak dan di tengah dada kiri bekas jahitan operasi saya. Butuh sekitar dua minggu sampai luka terkelupasnya mengering dan mulai tumbuh kulit baru.


Terapi Hormonal / Mengkonsumsi Obat Tamoxifen (sejak Januari 2020 – sekarang)

        Saya mulai diberi resep obat Tamoxifen, yakni obat untuk mengontrol hormon pertumbuhan tumor di tubuh, mulai bulan Januari 2020. Obat ini harus diminum setiap hari selama 5 tahun. Dokter hanya bisa meresapkan obat ini sekali sebulan. Dan terkadang, jika suplai obat tamoxifen di apotik Rumah Sakit, saya terpaksa harus membeli di apotik luar agar konsumsi obatnya tidak terputus lama.


Terapi Hormonal / Injeksi Zoladex (sejak Mei 2020 – sekarang)

       Selain obat tamoxifen yang diminum setiap hari, terapi hormonal lain yang saya dapatkan adalah injeksi zoladex setiap sebulan sekali selama kurang lebih 2 tahun (atau total 24 kali injeksi). Sama seperti kemoterapi, saya perlu cari kamar untuk rawat inap setidaknya semalam. Injeksi zoladexnya sendiri hanya perlu beberapa menit, tapi aturan rawat inap ini adalah kebijakan dari BPJS.


Check-Up Rutin 3 Bulan Sekali (Juli 2020 – sekarang)

 Selain terapi hormonal (tamoxifen dan zoladex) yang masih rutin saya jalani, setiap 3 bulan sekali saya akan diminta dokter onkologi melakukan berbagai pemeriksaan rutin, meliputi: USG payudara dan perut, rontgen dada serta tes darah (tes petanda tumor). Pemeriksaan rutin ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini jika ada penyebaran kanker (metastasis) ke organ lain. Untuk kasus kanker payudara, biasanya kanker menyebar ke organ tubuh seperti otak, tulang, paru-paru dan hati.


<<<<<

Sebelumnya

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 1)

>>>>>>>

Baca Juga





 

 

Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 1)

1. Awal Mula (Akhir Maret – April 2019)

Semuanya bermula di suatu pagi, di akhir bulan Maret 2019. Saya tiba-tiba merasakan benjolan di payudara kiri saat saya hendak mandi. Saya terkejut karena tidak pernah mengetahui ada benjolan sedikitpun sebelumnya. Tetapi benjolan itu justru teraba cukup besar dan terkesan muncul tiba-tiba, tak pelak membuat saya sangat kaget dan takut.

Pikiran buruk bahwa benjolan itu benar tanda tumor/kanker membuat saya ragu-ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Saya merasa hati saya belum siap dan sebenarnya berharap itu hanya benjolan yang sifatnya sementara.

Namun, setelah seminggu benjolan itu tidak menghilang maupun mengecil, disertai dengan rasa nyeri di payudara kiri saya, sayapun memutuskan pergi ke seorang dokter umum praktek di dekat rumah. Niatnya ingin berkonsultasi apakah benjolan ini sesuatu yang harus saya waspadai dan perlu periksakan lebih lanjut atau tidak. Dokter itu menyarankan saya untuk mengobservasinya selama sebulan terlebih dahulu. Dan sayapun melakukan saran dokter tersebut. Yah, sebenarnya alasan lainnya saya tidak segera pergi ke Rumah Sakit karena kartu BPJS saya baru saya aktifkan kembali jadi perlu waktu hingga kartunya bisa dipakai untuk berobat.  

2. Rujukan dari Puskesmas ke Rumah Sakit (Awal Mei 2019)

Kurang lebih sebulan kemudian, saya pergi ke puskesmas untuk meminta surat rujukan ke Rumah Sakit. Saya kemudian diarahkan ke Ruang KIA (Kesehatan Ibu & Anak). Di sana, saya diperiksa oleh dokter umum (yang kebetulan adalah wanita) dan seorang bidan. Setelah memastikan benar ada benjolan, saya pun segera dibuatkan surat rujukan ke salah satu Rumah Sakit Swasta di kota Mataram. Saya pun meluncur ke sana hari itu juga.

Oleh staf Customer Service di Rumah Sakit itu, saya pun diarahkan ke poli bedah umum, kemungkinan karena surat rujukan saya memang berbunyi demikian. Yang saya tidak tahu waktu itu adalah ternyata Rumah Sakit itu memiliki dokter onkologi, yakni dokter spesialis untuk tumor dan kanker, yang juga sekaligus bekerja di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP).

Dokter bedah umum yang menangani saya waktu itu pun memeriksa benjolan di payudara kiri saya dan berkomentar kalau ukuran benjolan ini lumayan besar, lantas meminta saya untuk melakukan USG payudara. Mendengar itu saya menjadi sedikit gelisah, karena untuk melakukan USG payudara berarti saya harus bertelanjang dada. Pikiran bahwa dokter yang akan melakukan USG mungkin saja laki-laki membuat saya tidak nyaman. Untungnya setelah bertanya-tanya ke perawat, saya mendapat informasi ada dokter USG wanita di Rumah Sakit itu, tapi saya baru bisa menemui dokter itu minggu depan.  

3. Hasil USG (Pertengahan Mei – Awal Juni 2019)

Seminggu kemudian, pada hari yang sama, saya pun kembali ke Rumah Sakit itu untuk melakukan USG. Selesai pemeriksaan, dokter menjelaskan hasilnya secara singkat. Di payudara kiri saya ditemukan benjolan padat berukuran ± 4cm dan dicurigai berbahaya, sedangkan di payudara kanan saya terdeteksi kista.

     Saat bertemu dengan dokter bedah umum yang menangani saya. Beliau pun menjelaskan kondisi saya dengan lebih detil. Benjolan di payudara kiri saya memiliki BIRADS 4, yang artinya ada kemungkinan yang cukup besar benjolan itu adalah tumor ganas (kanker). Sementara, payudara kanan saya memiliki BIRADS 3.

BIRADS, secara sederhana, adalah istilah untuk menggambarkan kemungkinan ganas atau tidaknya sebuah tumor. BIRADS terdiri dari 6 kategori, di mana nilai < 3 berarti kemungkinan besar tumor jinak dan biasanya tidak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan BIRADS dengan nilai 4 ke atas menunjukkan adanya potensi tumor ganas dan perlu dilakukan operasi biopsi untuk memastikannya. Operasi biopsi merupakan operasi pengambilan sampel jaringan tubuh, di mana sampel tersebut nantinya akan diperiksa di labororatorium untuk mengecek apakah sel-sel tumor tersebut bersifat ganas atau tidak.

Begitulah, melihat hasil USG saya dokter pun menyarankan untuk segera melakukan operasi biopsi untuk memastikan apakah tumor di payudara saya benar bersifat ganas atau tidak.

4. Mengabarkan Keluarga dan Menunggu Jadwal Operasi (Juni – Juli 2019)

Sebagai orang yang awam tentang tindakan medis yang tergolong besar seperti operasi, mau tidak mau saya menjadi gugup begitu mendengar saran dokter tersebut. Kata operasi, bagi saya dan mungkin banyak orang lainnya, terdengar berbahaya dan menakutkan, belum lagi biayanya yang mahal. Sehingga saya tidak mudah memutuskan untuk melakukan operasi biopsi meski dokter sudah menjelaskan itu satu-satunya cara untuk memastikan penyakit saya.

Terlebih lagi, saya perlu memberitahu orang tua dan keluarga. Dari awal periksa, saya melakukannya seorang diri. Kondisi saya saat itu masih belum pasti, jadi saya tidak ingin membuat mereka khawatir. Namun, untuk tindakan operasi ini, saya tentu tidak bisa melakukannya seorang diri. Masalahnya adalah jika mendengar kata operasi saja sudah membuat saya gugup, apalagi orang tua dan keluarga saya. Saya perlu berpikir bagaimana, tidak hanya memberitahukan tentang rencana operasi ini, tapi juga meyakinkan dan menenangkan mereka bahwa saya perlu melakukan operasi dan bahwa operasi ini tidak berbahaya. Kemudian, saya juga sebelumnya sudah memastikan ke dokter bahwa selama saya menggunakan BPJS dan tidak keluar dari kelas saya (kelas 1), maka tidak ada biaya yang perlu saya keluarkan untuk operasi ini.  

Setelah mendapat persetujuan dari keluarga, barulah saya mendaftarkan diri untuk operasi dan menunggu jadwal dari Rumah Sakit.

5. Operasi Biopsi (Awal Agustus 2019)

Operasi biopsi saya akhirnya terjadwalkan tanggal 8 Agustus. Ada jarak hampir 2 bulan sejak konsultasi terakhir saya dengan dokter. Kenapa jaraknya begitu lama? Ada dua penyebabnya. Pertama, karena saya menunda mendaftar operasi sebelum mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Kedua, karena saya ‘menolak panggilan’ Rumah Sakit yang pertama.

Kurang lebih seminggu setelah saya mendaftarkan diri untuk jadwal operasi, saya mendapat telepon dari pihak Rumah Sakit untuk masuk kamar (rawat inap) hari itu juga. Karena pemberitahuannya sangat mendadak, sementara anggota keluarga yang bisa menemani saya di Rumah Sakit ada di Lombok Timur (saya di Lombok Barat), saya akhirnya meminta untuk menunda dan menunggu jadwal berikutnya.

Saya pikir akan bisa mendapat jadwal paling tidak minggu depannya, karena jarak saya mendaftar dan dihubungi Rumah Sakit hanya butuh waktu satu minggu. Tahu-tahunya, saya baru dipanggil lagi sebulan kemudian. Setelah mendapat panggilan telepon, saya pun segera meluncur ke Rumah Sakit, mendaftarkan diri untuk rawat inap dan menjalani berbagai tes wajib pra-operasi (tes lab darah dan rontgen dada).

Operasi biopsi saya dilakukan keesokan sorenya. Operasi itu memakan waktu kurang lebih 3 jam. Saya hanya ingat masuk ruang operasi sekitar jam 4 sore, dan terbangun kembali di ruangan inap saya ketika sudah malam (mungkin sekitar magrib atau isya). Saya juga ingat bagaimana terkejutnya saya saat menemukan sebuah tabung suntikan besar berisi darah yang terhubung dengan selang ke bagian dada kiri saya. Sepertinya itu untuk menampung sisa darah paska operasi.

Saya keluar dari Rumah Sakit dua hari kemudian. Dokter menjelaskan bahwa hasil biopsi saya akan keluar kira-kira dalam dua minggu ke depan.

6.  Hasil Biopsi (Akhir Agustus 2019)

Sekitar dua minggu setelahnya, saya mendapat SMS memberitahukan hasil patologi anatomi (hasil biopsi) saya sudah dapat diambil di Rumah Sakit. Kesimpulan pemeriksaan itu berbunyi sebagai berikut “Invasive Ductal Carcinoma, Grade 1”. Begitu mata saya menangkap kata “invasive”, rasa takut menyergap saya. Segera saya mencari tahu di Google apa yang dimaksud dengan Invasive Ductal Carcinoma.

 Sebenarnya, dari informasi yang saya baca, bahkan mungkin sejak pertama kali melihat kata “invasive”, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa saya positif terkena kanker. Saya lantas mengontak dokter yang menangani saya lewat whatsapp, mengirimkan foto hasil patologi tersebut, dan meminta penjelasan dari beliau. Namun, jawaban dokter hanya memperkuat kekecewaan dan ketakutan saya.

Malamnya, saya menemui dokter itu di Rumah Sakit untuk mengkonsultasikan secara langsung hasil patologi anatomi yang saya terima hari itu. Jika biasanya, saya pergi ditemani adik perempuan saya, malam itu saya meminta seorang anggota keluarga saya yang lain untuk turut serta. Saya punya firasat bahwa saya mungkin tidak akan bisa mendengarkan penjelasan dokter dengan baik, dan butuh setidaknya dua orang untuk menemani saya di ruang dokter.

Meskipun saya sudah diberitahu sebelumnya, akan tetapi mendengar dari dokternya langsung ternyata memiliki bobot yang jauh berbeda. Seperti dugaan saya, mulai dari pertengahan penjelasan dokter, saya sudah tidak bisa mendengarnya dengan baik.

 Pikiran saya terasa mengambang, suara-suara di sekitar saya tertangkap samar di telinga, tubuh saya sedikit bergetar dan pandangan saya kabur (karena air mata). Saya sudah menyerah untuk mengontrol emosi dan ekspresi wajah saya. Saat akan keluar dari ruangan, dokter menjabat tangan saya, tersenyum serta memberikan kata-kata penyemangat. Tetapi alih-alih balas tersenyum atau mengucapkan terima kasih, saya memalingkan pandangan saya. Saya tidak sanggup menatap wajah dokter yang saya tahu sedang berusaha menghibur saya. Hati saya terlanjur merasa miris.

Meskipun tidak sempurna, saya sempat menangkap beberapa penjelasan dokter tentang apa yang akan selanjutnya perlu saya lakukan. Salah satunya, yang utama, adalah dokter akan merujuk saya ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) untuk menjalani kemoterapi.

Di luar, saya duduk menunggu surat rujukan ke RSUP yang sedang dibuatkan perawat. Dan saat itulah, air mata saya sepenuhnya tumpah. Walaupun sudah cukup malam, masih ada cukup banyak orang di sekitar saya maupun yang berlalu lalang di depan saya. Tetapi saya tidak menghiraukannya. Untuk beberapa saat, saya menangis dalam diam. Itulah kali pertama saya mengalami kalimat “dunia saya seakan runtuh” yang sering saya baca di buku-buku. Tangis saya terpaksa mereda setelah mendengar nama saya dipanggil. Seroang perawat menghampiri saya dan menyerahkan surat rujukan ke RSUP untuk saya. Lalu, kami bertiga pun pulang ke rumah.


>>>>

Baca Juga:

 Pengalaman Saya Melawan Kanker (Bagian 2)

Baca Juga:

Seputar Kanker dan Covid-19

 

x